Bagaimana Orang Kristen Berfungsi Sebagai Garam

Anda sebagai Garam – Cita Rasa bagi Dunia yang Tawar

Coba bayangkan peristiwa ini. Anda pergi ke restoran bersama teman-teman. Pelayan restoran menyuguhkan telur rebus. Segera mata Anda terarah ke seluruh meja… mencari-cari sesuatu… mencari sebuah botol mungil dengan lubang-lubang di puncaknya. Barangkali bentuknya bulat, persegi, atau seekor bebek yang cantik…tapi wadah itulah yang anda cari. Mungkin ayat dari kitab Ayub segera terlintas dalam pikiran Anda, Dapatkah makanan tawar dimakan tanpa garam atau apakah putih telur ada rasanya?” (Ayub 6:6) . Ketika obrolan makin hangat, Anda sadar bahwa telur rebus itu bukan saja tawar, tetapi kini makin dingin. Jadi Anda memberi isyarat kepada teman Anda dan berkata, “Maaf, tolong ambilkan botol garam itu.”

Dalam kehidupan sehari-hari kita menikmati manfaat garam: untuk telur, keripik, sup ayam dan lain-lain. Garam juga membantu kita untuk mengawetkan makanan dan mengasinkan makanan yang tawar. Kita sering berpikir bahwa garam adalah pemberi cita rasa. Namun manfaat garam jauh lebih besar…

Dalam Matius 5:13 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Dengan beberapa patah kata ini sebenarnya Yesus mengatakan tentang fungsi Gereja-Nya dan tanggung-jawab individu di dalamnya.

Sebagai murid-Nya, kita adalah garam dunia. Kita bukan menjadi garam, tetapi kita memang adalah garam dunia. Itulah keadaan kita sebagai orang Kristen. Itulah pernyataan Yesus tentang kita. Ketika kita menjadi Kristen, dalam pikiran-Nya, Allah ingin kita lebih daripada sekadar menerima keselamatan. Ia ingin kita mempengaruhi orang lain – ya… seluruh dunia ini… bagi Dia. Ia tidak berkata bahwa kita adalah garam gereja atau garam Sekolah Minggu. Kita adalah garam dunia. Tidak ada orang yang menggarami garam! Untuk memahami arti sebagai garam, kita perlu mengetahui seperti apakah garam, darimana asalnya, dan bagaimana kerja garam.

Mengapa Garam

Mengapa Allah menyebut kita garam? Ketika menciptakan indra penciuman, Allah memberi kita kemampuan untuk membedakan sekitar 14.000 macam bau. Namun ketika menciptakan indra rasa / cicip, Ia hanya memberi kemampuan membedakan empat macam saja: pahit, manis, asam dan asin. Semua aroma berasal dari kombinasi empat macam rasa ini. Allah tidak berkata bahwa kita adalah pemahit, pemanis atau pengasam dunia ini. Ia menyebut kita garam karena Ia memiliki tujuan. Bukan sekadar pilihan semena-mena. Artinya kita perlu memperhatikan dengan saksama sifat umum dan sifat khas garam.

Permata dan logam mulia berada di bawah tanah, namun sebaliknya garam adalah zat yang umum sekali. Berton-ton garam bisa anda jumpai di tempat-tempat seperti Laut Mati, Great Salt Lake dll. Anda bisa jumpai juga tambak garam di pantai-pantai utara Pulau Jawa. Kita akan memperoleh garam bila kita menguapkan air laut. Di beberapa tempat bahkan dibutuhkan buldoser-buldoser untuk menimbun tumpukan-tumpukan garam yang menggunung. Jumlahnya berlimpah-ruah melebihi tuntutan kebutuhan. Ketika meminta diambilkan garam, maksud kita lebih terarah kepada apa manfaat garam, bukan pada bagaimana membuat garam. Saat itu kita sadar bahwa telur kita memerlukan garam. Namun bila ingin lebih tepat, kita akan berkata, “Tolong ambilkan Natrium Chlorida!”

Natrium Chlorida

Garam dapur dibentuk oleh dua unsur kimia yang amat reaktif dan berbahaya, yakni Natrium dan Chlor. Natrium adalah logam putih keperak-perakan yang selunak keju. Jika Anda menjatuhkan sebongkah kecil Natrium ke dalam air, maka akan terjadi reaksi amat eksplosif yang menghasilkan gas Hidrogen. Chlor adalah gas kehijauan dengan bau yang menyesak nafas. Bila Anda masuk ke ruangan berisi gas ini, maka Anda akan mati dalam tempo beberapa detik karena keracunan. Pada garam, kedua zat yang berbahaya ini bersama menghasilkan sesuatu yang baik. Ketika berkombinasi kedua unsur ini memiliki nama baru. Allah menunjukkan kasih-Nya dengan mengikat kita kepada diri-Nya. Selain itu, kristal garam berbentuk kubus. Aku tidak mereka-reka tentang alasan Allah menyebut kita dengan nama zat berbentuk kubus. Kupikir, Ia sungguh penuh humor!

Gereja sebagai Wadah

Di sinilah Gereja tampil! Tiap gereja berperan sebagai botol wadah garam. Ukuran dan bentuk botol garam berbeda-beda, ada yang besar, kecil, menarik atau biasa. Namun semuanya menampung sejumlah garam. Aku memiliki sebuah bejana besar berisi garam yang kusimpan di lemari dapurku. Namun untuk keperluan di meja makan, ada juga sebuah botol mungil yang bisa dikocok agar serbuk garamnya keluar dari lubang-lubang di puncaknya.

Sekarang, coba sabar dengan pertanyaan sederhana ini: Bagaimana caranya menggarami telur rebus? Apakah aku hanya meletakkan botolnya sedekat mungkin dengan telur itu? Atau kutaruh botolnya di atas telur? Jelas aku harus mengguncang botol ini agar garamnya keluar dan tertabur pada telur itu karena garam hanya bermanfaat dengan kontak langsung atau sentuhan langsung. Hal ini penting. Allah menyebut kita garam karena Ia ingin kita berada dalam kontak langsung dengan hal-hal yang perlu kita garami.

Gereja sebagai wadah garam… Tanpa lubang di atasnya, gereja bukanlah wadah garam dalam arti yang sebenarnya. Barangkali kita perlu menambah lubang di “puncak” gereja kita agar Yesus dapat “mengguncang” kita keluar. Mungkin bentuknya adalah membiarkan kita memasuki pengalaman-pengalaman tertentu. Ia tahu bahwa bila kita diam tenang-tenang dan bergerombol di gereja, maka kita tidak berguna. Memang mudah sekali merasa enak dan nyaman di kelompok kecil “Persekutuan Kristen” dan melupakan fungsi kita untuk berkontak langsung dengan dunia… padahal kita dipanggil untuk menjangkau dunia bagi Dia.

Ingin kujelaskan sesuatu di sini. Setiap orang Kristen perlu memiliki persekutuan dengan gereja lokal dan gembalanya. Kita semua memerlukan struktur pertanggungjawaban. Gereja lokal merupakan tempat kita “makan”, ditantang, diajar, dikoreksi dan didorong untuk bersemangat. Gereja adalah tempat untuk kita bertumbuh. Tetapi pergi ke gereja bukanlah segalanya! Sekadar “pergi ke gereja” benar-benar celaka! Visi kita harus lebih luas. Gereja kita harus menjadi landasan luncur untuk memenangkan dunia bagi Yesus. Gereja harus menjadi pangkalan kerja kita, bukan pondok peristirahatan tempat bersantai! Sebelum domba-domba dan gembala-gembala jemaat menyadarinya, maka kita tidak akan dapat bangkit dan mengemban panggilan Allah bagi generasi kita ini.

Garam Harus Diremukkan

Bila segumpal garam menghalangi lubang di puncak botol mungil Anda, maka Anda harus meremukkan gumpalan itu menjadi serbuk-serbuk agar bisa keluar dan digunakan. Kita tidak dapat memakai bongkah garam yang belum ditumbuk. Kadang-kadang Allah membiarkan kita melewati proses “penumbukan” agar kita bisa dipakai oleh-Nya, -seperti serbuk garam- sedikit demi sedikit… Yesus juga diremukkan bagi kita, dan kita memperingatinya setiap kali mengikuti Perjamuan Kudus. Gandum harus ditumbuk hancur sebelum kita membuatnya menjadi roti, dan kita harus diremukkan sebelum kita dapat melayani dunia yang hancur. Bila tidak diremukkan, kita mungkin menjadi sebongkah “sumber penghalang” bagi kehendak Allah, entah pada bagian mana dan dalam segi apa. Dalam kesetiaan-Nya, Allah ingin kita tertabur bebas sebagai garam dunia.

Proses peremukan tidak pernah enak. Kadang-kadang kita merasa hancur berantakan. Namun ada penghiburan bagi kita. Bila Anda menumbuk bongkah garam menjadi serbuk garam yang halus lalu mengamatinya dengan mikroskop, maka Anda akan melihat bentuknya masih berupa kristal kubus, seberapa lumatpun Anda menggerusnya. Jadi ketika kita lumat dan hancur pun, kita tetap memiliki kepastian bahwa kita tidak akan kehilangan keunikan dan ciri khas Yesus. Kenyataannya, semakin kita kecil, Ia semakin besar!

Keseimbangan Garam

Keseimbangan kadar garam dalam tubuh kita merupakan hal yang khas. Jika terlalu banyak garam, tubuh kita akan menahan cairan ekstra sehingga kita bengkak. Timbullah ketegangan pada setiap organ tubuh, khususnya jantung karena jantung harus memompa cairan tambahan. Hal ini dapat menimbulkan masalah sehingga kita harus menjalani “diet pantang garam”. Maksudnya bukan tanpa garam sama sekali karena tanpa garam yang cukup, tubuh kita tidak dapat menahan cukup cairan. Akibatnya tekanan darah turun dan kita bisa mengalami ‘shock’ dan bisa… meninggal dunia. Jadi terlalu sedikit garam sama bahayanya dengan terlalu banyak garam. Kita tidak dapat hidup tanpa garam. Kita memerlukan keseimbangan garam yang tepat!

Sebagai garam dunia, kita harus berada di tempat yang tepat, pada saat yang tepat dan dalam jumlah yang tepat. Kita tahu bahwa terlampau banyak garam membuat makanan jadi tidak enak. Pernahkah tutup botol garam Anda terlepas ketika Anda membubuhi makanan sehingga garam dalam jumlah yang banyak tertumpah sekaligus ke dalam sup Anda? Sup itu tidak bisa Anda makan lagi! Jadi kita perlu jumlah yang tepat dan sesuai dengan keadaan… sejumput jari untuk pelayanan pribadi… sesendok besar untuk pekerjaan yang lebih besar. Di sini bukan masalah penilaian yang kaku, tetapi masalah hikmat dalam hal menilai seberapa pengaruh yang diperlukan untuk cukup memberi cita rasa pada suatu keadaan.

Untuk menceritakan tentang Tuhan kita kepada satu orang, atau membimbing satu orang rekan yang sedang bergumul, kita memerlukan satu orang saja. Jika 20 orang sekaligus mencoba memberi nasehat, tentu akibatnya malah kacau. Namun untuk berbaris ke Balai Kota tentu Anda memerlukan banyak rekan. Sekadar menjadi garam atau berpikir tentang bagaimanakah garam bermanfaat tidaklah memiliki arti apapun. Dalam pekerjaan besar maupun kecil, kita perlu melakukan kontak langsung!

Apa saja Manfaat Garam?

MEMBERI CITA RASA:

Garam menambah cita rasa pada makanan kita sehingga lebih nikmat dan membangkitkan selera. Bila kita meniadakan garam dari bumbu makanan yang sama itu, maka kita akan kehilangan selera sama sekali. Sebagai orang Kristen, kita memperoleh hak istimewa untuk menjadi orang-orang yang membawa hal-hal terbaik bagi sesama kita maupun bagi keadaan dimana kita terlibat. Betapa indahnya berkat kala kita melihat hal-hal yang memuliakan Allah, serta mengokohkan keyakinan orang-orang sehingga mereka makin bersemangat dan tumbuh. Bila kita adalah garam, maka cara hidup, ucapan, tingkah laku kita seharusnya membuat orang lain haus akan realita Allah yang mereka lihat dalam kehidupan kita.

Garam adalah zat yang umum sekali. Garam amat mudah larut dalam air panas maupun air dingin. Yesus melengkapi kita untuk melayani orang-orang yang dingin maupun orang-orang yang bergairah terhadap-Nya. Yesus memberikan teladan ini. Suatu malam Yesus makan semeja dengan berbagai kelompok orang-orang: para pemungut cukai yang dikenal oleh masyarakat sebagai koruptor dan pemeras, orang-orang bejat, serta para murid-Nya. Orang-orang Farisi mempertanyakan teknik atau cara pelayanan-Nya, namun Ia berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit… yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa…” (Matius 9:12-13). Yesus mengasihi orang yang terhilang, maupun orang yang telah menemukan Dia.

MENYEMBUHKAN:

Ketika masih kanak-kanak, tulang lututku amat kurus dan menonjol sehingga kulitnya mudah lecet. Akibatnya seringkali berdarah. Karena aku dibesarkan di daerah pantai, maka hal terbaik yang bisa kulakukan adalah berenang di pantai. Air laut akan mengusir racun-racun, membersihkan luka-luka itu dan membantu penyembuhannya. Di antara Anda ada juga yang berkumur air garam bila tenggorokan Anda mulai luka. Ada suatu sifat yang khusus pada air garam.

Selain itu garam juga menyengat. Bila Anda luka dan pergi ke dokter, maka dalam proses penyembuhannya sering Anda mengalami rasa sakit. Agar sembuh, seorang yang “sakit dosa” harus mengalami sengatan kebenaran. Ada orang yang mengungkapkannya demikian, “Kebenaran akan memerdekakan Anda… namun pertama-tama kebenaran akan membuat Anda gelisah!” Aku yakin kita semua mengalami dan bisa menceritakan bagaimana sakit dan terlukanya kala kita menyadari dosa-dosa kita. Seringkali kita merasa semakin buruk sebelum kita merasa semakin sembuh. Namun kala kita sadar akan kenyataan diri kita yang sejati dan menyadari siapa Allah kita, maka saat itu kita akan semakin baik. Baru sesudah itu kita dapat disembuhkan.

MENYADARKAN:

Garam juga dapat “membangunkan” mereka yang telah letih dalam perjalanan hidupnya. Kita harus melewatkan garam di bawah hidung mereka agar mereka menjadi sadar. Allah ingin agar kita menyadarkan mereka yang hilang dalam dosa dan membangkitkan pahlawan-pahlawan-Nya yang sempat terluka. Bukan dengan menggarami lukanya tetapi dengan cara sedemikian rupa, sehingga kebenaran yang dinyatakan itu membawa kesembuhan dan pengharapan.

MEMURNIKAN:

Garam berperan sebagai penawar pencemaran. Allah menyuruh Elisa membawa wadah berisi garam ke mata air yang tercemar racun serta menaburkannya di sana. Lalu Elisa berkata, “Beginilah Firman Tuhan: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi” (2 Raja-raja 2:21). Kala Allah menggunakan garam untuk menawarkan racun pada mata air di Yerikho, sebenarnya Ia mengerjakan suatu mujizat – persis seperti ketika Ia memakai kita.

Seperti halnya Elisa tidak melemparkan wadah garam itu ke dalam air, jelas kita juga tidak dapat melemparkan gedung gereja untuk memecahkan masalah-masalah dunia. Seperti Elisa, kita harus menaburkan garam. Kita memiliki bangunan yang disebut “gereja”. Bentuknya mungkin indah, namun gedung itu hanyalah wadah dari suatu isi yang bernilai. Kita tahu bahwa bukan gedungnya, tetapi orang percaya yang ada di dalamnyalah yang merupakan Bait Roh Kudus. Gedung gereja yang indah itu baik, tetapi penghuninyalah yang diperhitungkan.

Allah bisa menyuruh Elisa berkeliling kota untuk menaburkan garam ke setiap sumur, namun kenyataannya Ia menyuruhnya ke sumbernya, yakni mata air yang tercemar. Allah juga ingin mengutus kita ke sumber dari banyak masalah dan memakai kita dalam rangka menawarkan racun di lingkungan masyarakat kita. “Mata air beracun” ini perlu ditawarkan sehingga tidak terjadi lagi “kematian atau keguguran bayi”.

MENGAWETKAN:

Sebelum ada lemari es atau kulkas, garam digunakan untuk mengawetkan. Garam dioleskan pada daging untuk mencegah perusakan dan pembusukan oleh bakteri. Pengaruh kristiani kita bekerja persis seperti itu, yakni dengan menahan pembusukan dunia ini… yang bila dibiarkan akan berlipat ganda secepat bakteri membusukkan daging.

Ketika menyebut kita sebagai “garam dunia”, Yesus sekaligus dengan keras menghakimi masyarakat serta menyebut tuntutan agung mengenai apa yang bisa dilakukan oleh murid-murid-Nya bagi dunia. Kita tidak menggarami sesuatu yang masih hidup. Kita menggarami sesuatu yang sudah mati untuk mencegah pembusukan. Di sini Yesus sedang berkata bahwa tanpa pengaruh-Nya, masyarakat dunia adalah bangkai yang segera membusuk dan hancur. Kita dengan segera bisa mengaminkan hal ini. Tetapi bagaimana dengan fakta ini: Sebagai murid-Nya, kita harus dioleskan ke antara massa untuk memberi cita rasa, menunda pembusukan dan menyelamatkannya dari kehancuran akibat kejahatan. Tugas yang kurang enak, bukan? Sedihnya, kebanyakan dari kita menganggapnya demikian.

Ingin kukemukakan di sini bahwa alasan dari banyak masalah yang kritis di masyarakat kita adalah karena orang-orang Kristen menjauhkan dan memencilkan diri dari dunia sehingga kehilangan kontak langsung. Kita memencilkan diri karena takut “terinfeksi”, padahal seharusnya kita menaati Allah dan mengerjakan bagian kita dalam rangka menahan atau mencegah kebusukan dalam masyarakat. Bila Allah memanggil kita untuk bertugas, di tempat manapun, kita harus mengerjakannya dengan utuh, murni, jujur dan adil. Kita adalah garam bukan hanya karena kita memegang kebenaran, namun karena kita bermakna membawa pengaruh kesalehan dalam tindakan dan sifat kita kepada dunia ini.

Kita harus bertingkah-laku sedemikian rupa sehingga iblis malu menunjukkan dirinya di depan kita. Setiap pribadi yang memilih keputusan kebenaran akan menolong dalam hal membawa opini publik ke arah yang benar. Setiap pribadi yang merendahkan standar Ilahi dalam kehidupannya akan mendukung kemerosotan standar ini dalam masyarakatnya. Jadilah teladan dari sikap tidak kompromi. Dengan demikian kita “mengawetkan” daerah yang kita pengaruhi di lingkungan kita… dengan prinsip-prinsip hidup yang saleh. “Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat” (Amsal 29:2).

Taktik Musuh

Selama bertahun-tahun ini si musuh menjalankan strategi yang amat sederhana, dan taktik ini berjalan baik. Si musuh berbisik kepada orang percaya dengan nada seperti ini, “Kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan selama kau tetap di gereja.” Kenyataan ini membuat segala sesuatu yang di luar gereja berada dalam jangkauan kekuasaan si musuh. Juga dalam beberapa tahun belakangan ini, beberapa daerah berpengaruh dalam masyarakat semakin “kehabisan” orang-orang Kristen. Sejalan dengan itu kita dibuat percaya bahwa keterlibatan kita di dalamnya akan mencobai kita lebih daripada kemampuan kita untuk tetap dekat Allah… atau bahkan… di luar kemampuan-Nya untuk menjaga kita.

Beberapa daerah berpengaruh kritis dalam masyarakat yang sedang menuju puncak kemerosotan adalah dunia pendidikan, bisnis, pemerintahan, kesenian, media, ilmu pengetahuan dan keluarga. Daerah-daerah ini merupakan bagian utama yang mempengaruhi pemikiran dan sikap masyarakat. Jadi tepat bila iblis amat mengincar dan menginginkannya. Si musuh bersama orang-orang yang didalanginya telah membuat kita takut melayani Tuhan di daerah-daerah ini… takut keterlibatan kita secara otomatis akan menjerumuskan kita jatuh menjadi mangsa dari ketamakan, kedudukan, nafsu, humanisme sekuler, kesombongan, kebejatan moral dll. Pencobaan-pencobaan ini jelas merupakan kenyataan, dan kita memang akan menghadapinya. Di manapun kita berada, kita memang pasti akan menghadapi pencobaan.

Kehidupan di bumi merupakan peperangan melawan dunia, kedagingan dan iblis. Keterlibatan kita dalam pelayanan Kristen juga bukan jaminan sehingga kita tidak jatuh dalam dosa. Satu-satunya yang menjamin kita agar tidak jatuh adalah hubungan kita dengan Allah. Allah itu setia dan “tidak membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13). Bila kita tetap hidup dalam kehendak-Nya serta terus-menerus mencari wajah-Nya, maka hal inilah yang akan menguatkan kita untuk menaati-Nya… serta menguatkan kita untuk lari dari pencobaan ke jalan yang selalu disediakan-Nya.

Kita harus takut akan Tuhan – tetapi kita harus melawan si musuh. Artinya kita juga harus melawan ketakutan terhadap musuh. Allah telah memberi kita karunia-karunia untuk kita gunakan dalam rangka memuliakan-Nya dan untuk kebaikan sesama. Hidup dalam ketakutan yang keliru ini boleh jadi menyebabkan kita mengambil pilihan-pilihan yang keliru yang bukan hanya akan amat mempengaruhi, bahkan juga sering mengubah impian, cita-cita, pelayanan, dan arah hidup kita.

Sedikit juga Bermakna

Sepanjang sejarah Alkitab, berulangkali Allah memilih serbuk garam kudus-Nya untuk mengadakan sesuatu yang menyolok. Ester mempertahankan seluruh bangsanya dengan ketaatannya kepada Allah bersama Mordekhai. Musa berdiri sebagai pendoa-syafaat bagi bangsanya yang memberontak sehingga Allah tidak memusnahkan mereka. Kehidupan 276 orang di kapal itu selamat karena salah seorang hamba-Nya yang taat, yakni Rasul Paulus.

Dunia sekitar kita dalam kesulitan besar karena pemecahan-pemecahan yang mereka sodorkan dan pakai tidak menjawab kebutuhan mereka. Padahal Allah memiliki pemecahan untuk segala keadaan. Dan pemecahan-Nya merupakan jawaban yang tepat! Memang ada juga orang-orang yang demikian keras hatinya, yang menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan prinsip-prinsip ilahi yang kudus. Contohnya Firaun. Meskipun demikian, kebanyakan orang akan memberi respon positif terhadap hikmat Allah bila kita menyampaikannya dengan cara yang dapat diterima dan dimengerti oleh mereka.

Kita memiliki banyak kesempatan untuk menyampaikan kebenaran Allah kepada setiap tingkat lapisan masyarakat. Bahkan beberapa butir garam akan membawa perbedaan. Sedikit garam akan mengasinkan segelas air. Iman yang besar disebut dalam Alkitab sebagai iman sebesar biji sesawi. Jangan pula melupakan kisah seorang janda dengan sedikit terigu dan minyaknya. Yang kita berikan atau persembahkan kepada-Nya boleh jadi kita pandang sebagai hal yang kecil dan tak berarti, namun hanya Allah yang dapat mengukur makna kekal dari ketaatan kita. Dalam Kerajaan Allah, yang sedikit bisa saja memiliki makna yang besar.

Duta yang Menggarami

Untuk menjadi garam dunia, pertama kita harus memandang diri kita sebagai wakil Tuhan di manapun kita berada. Dalam surat 2 Korintus 5:20 kita disebut sebagai utusan atau duta Kristus. Seorang duta dikirim ke luar negeri dan ia berwenang dalam mewakili negaranya demi kepentingan pemerintah / rajanya di negara itu. Kewarganegaraannya tidak berubah. Ia tetap berwarganegara dari negara yang mengutusnya. Kehadirannya di negara itu menciptakan saling pengertian yang lebih besar antara kedua bangsa tersebut.

Karena kita mewakili prinsip-prinsip dan karakter-karakter Ilahi di setiap segi dalam masyarakat, maka kita perlu tetap mengabdi kepada Dia yang mengutus kita. Kita kehilangan otoritas jika kita mengabaikannya. Banyak dari kita yang menyebut dirinya sebagai orang Kristen justru lebih dipengaruhi oleh dunia ketimbang mempengaruhi dunia. Dalam usaha mengubah dunia yang semakin merosot dalam dosa, kita perlu tetap “menyala” bagi Allah. Jika kita tidak “memanaskan” dunia maka dunia akan “mendinginkan” kita. Si musuh akan terus merebut kemenangan… dan semakin memperoleh kekuasaan. Iblis akan semakin berbahaya karena daerah yang dikuasainya semakin banyak dibandingkan dengan daerah yang kita pengaruhi.

Begitulah Garam!

Jadi bagaimana kita menjadi garam? Di Amerika Serikat, lima puluh tahun yang lalu orang merasa malu bila ketahuan tidur dengan teman lawan jenisnya. Sekarang justru orang malu mengaku dirinya masih gadis / perjaka. Syukur bahwa perzinahan belum diterima umum. Demikian pula penggunaan obat bius, minuman keras, penipuan pajak, pornografi, abortus dan kenakalan remaja. Kita menjadi garam kala kita berdiri untuk menegakkan kebenaran. Bayangkan seorang pemimpin regu olahraga berbicara kepada rekan-rekan timnya bahwa ia menjaga kekudusan dirinya untuk pernikahannya. Pembicaraan demikian di ruangan ganti pakaian di stadion itu tentu memuliakan Allah. Setiap orang percaya seharusnya mendengungkan ucapan-ucapan yang jelas menyatakan pendiriannya, misalnya, “Aku tidak mau berbohong terhadap ibu atau majikan atau petugas pajak. Menurutku abortus adalah tindakan yang salah. Aku tidak mau ikut meneguk minuman keras atau memakai obat bius. Aku tidak mau menipu majikanku atau pegawaiku. Aku setia kepada pasanganku. Aku tidak bertindak semena-mena terhadap anak-anakku. Apapun yang dilakukan orang lain, aku akan tetap hidup dalam kesalehan.”

Wanita pertama yang kami tampung di rumah kami adalah Cindy. Ia dipaksa berbohong mengenai jumlah upah mingguannya. Majikannya berkata bahwa bila ia mengatakan yang sebenarnya maka semua rekan sesama pelayan restoran itu akan dicap sebagai pembohong… padahal mereka memang berbohong. Jika Cindy tetap tidak mau berbohong maka ia akan dipecat. Sebagai seorang ibu yang janda, Cindy memerlukan pekerjaan itu, namun ia tahu bahwa ia akan kehilangan sesuatu yang lebih bernilai jika ia setuju dengan niat dusta majikannya. Ia akan kehilangan sesuatu yang lebih penting daripada pekerjaannya.

Kita sering berada dalam situasi seperti ini. Kita diuji apakah kita garam atau bukan. Orang-orang Kristen sejati tidak kompromi ketika tekanan datang. Mereka tidak akan diam ketika Allah ingin mereka berbicara. Mereka bertindak ketika tahu ada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip-Nya. Seperti Ester, mereka bersedia menerima risiko dan bertindak dengan berani… bahkan dengan taruhan nyawa… karena Allah yang memerintah mereka.

Garam yang Kehilangan Rasa Asin

Di Timur Tengah, garam disimpan dalam gudang yang lantainya tanah saja. Bila disimpan terlalu lama, garam yang berada di dasar akan kehilangan rasa asinnya. Dan sekali garam ini kehilangan rasa asinnya, tidak mungkin pulih lagi. “Garam” seperti ini dibuang untuk menutup lubang-lubang di jalanan agar rata. Jadi “garam” itu kemudian diinjak-injak kaki orang, juga unta, anjing dan kambing yang lewat di sana.

Orang Kristen yang tawar merupakan mangsa empuk. Mereka bukan hanya memberi kesempatan untuk campur tangan musuh atas kehidupan mereka, tetapi juga atas daerah pengaruh yang Allah berikan untuk mereka pegang. Artinya prinsip-prinsip yang Allah berikan untuk dipegangnya dalam keluarga, pekerjaan dan lingkungan masyarakatnya dibiarkan tanpa perlindungan. Alkitab berkata, “Seperti cuka bagi gigi dan asap bagi mata, demikian si pemalas bagi orang yang menyuruhnya” (Amsal 10:26). Allah sendiri telah mengutus kita dengan suatu berita untuk disampaikan kepada dunia. Jika kita teramat malas untuk menyampaikannya, kita bukan saja tawar, tetapi juga kita menjadi batu sandungan dan sumber kepedihan bagi Tuhan.

Yesus menjelaskan bahwa memang mungkin orang Kristen kehilangan segala sesuatu yang seharusnya membuat mereka berbeda dari orang-orang yang ingin mereka perbaiki. Di mana-mana orang-orang percaya berusaha untuk tidak bercacat cela di mata dunia. Namun ada juga orang-orang Kristen yang imannya tidak membawa pengaruh apapun. Mencegah dirinya dari korupsi saja tidak sanggup. Dalam kasus ini, perkataan Yesus amat keras, “…jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Matius 5:13). Sama sekali tidak berguna bagi Allah maupun manusia. Bahkan dalam Lukas 14:35 Yesus menggambarkan ketidakbergunaan “garam” tawar ini dengan lebih gamblang, “Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja”. Kotoran masih berguna untuk pupuk. Jadi tidak berguna untuk pupuk benar-benar keadaan paling parah.

Garam yang sekali kehilangan asinnya tidak mungkin dipulihkan. Tetapi bagaimana dengan kita? Kita adalah garam dunia, dan kita perlu diasinkan. Jadi adakah harapan pada kita? Jika Anda telah kehilangan rasa (hanya Anda yang mengetahui keadaan diri Anda), maka keadaan ini benar-benar serius. Bagaimanapun bagus bentuknya, pisau yang tidak mampu mengerat atau lampu yang tidak dapat menyala benar-benar tidak berguna. Jadi gagal dalam misi dan tugas Anda bagi Allah sungguh merupakan keadaan yang amat parah. Jika demikian keadaan Anda, dengan cermat periksalah hubungan Anda dengan Tuhan, dan amati kapan dan dalam hal apa Anda mulai gagal. Lalu ambillah langkah-langkah perbaikan yang diperlukan.

Kupikir kiasan tentang “garam” tawar ini tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa orang-orang Kristen tidak dapat memperoleh kembali rasa asinnya. Jika kini Anda tawar, tidak ada yang bisa mencegah Anda datang kepada Allah dengan kejujuran, kerendahan hati, dan pertobatan. Nyatanya kembali kepada Sumber merupakan satu-satunya harapan Anda. Tetap dekat dengan Yesus, terutama dalam doa dan Firman-Nya, merupakan hal yang justru mengasinkan kita dan melepaskan kita dari “injakan kaki”.

Keluar dari Botol

Dunia di sekitar kita sedang mengalami kemerosotan mulai dari kehidupan individu, masyarakat sampai ke seluruh bangsa. Inilah waktunya kita “keluar dari botol” dan menyatakan bahwa si musuh harus angkat kaki. Tuhan ingin kita melayani Dia dengan cara yang baru demi kemuliaan-Nya dan demi kebaikan bagi dunia. Maksudku bukan mendirikan sejenis utopia (negeri impian) dimana kita mempunyai masyarakat yang sempurna. Hal ini akan terjadi kelak ketika Yesus datang serta memerintah dunia ini. Saat itu setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Dalam kesiagaan penantian kita akan kedatangan-Nya, biarlah kita bertindak taat pada Firman-Nya dalam kehidupan kita.

Allah sedang mengerjakan hal-hal baru di antara kita. Hal-hal yang mungkin tidak sama dengan apa yang dilakukan-Nya di masa lalu. Namun kita perlu mengambil bagian dalam gerakan Allah ini meskipun bentuknya mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Marilah berdoa agar kita tidak kehilangan kesempatan ataupun memperburuk dan mengejek hal ini. Bukan sekadar kebetulan saja kita hidup dalam kurun sejarah ini. Generasi kita memiliki tugas unik yang harus digenapi. Di hadapan kita terpampang kesempatan… ya, perioda waktu untuk menerima isi hati Allah… atau meniadakan / menolak tujuan-Nya atas hidup kita. Kupikir Tuhan sudah letih melihat umat-Nya hanya ingin hidup aman. Banyak dari antara kita yang telah mengenyam kenikmatan dengan berdiam di dalam gereja sebagai orang Kristen selama 10 – 15 tahun, bertumbuh, berakar dalam Firman dan mengijinkan Allah membina karakter kita. Kita tentu harus tetap demikian. Tetapi kita juga harus mempraktekkan semua itu agar menjadi sesuatu yang berguna.

Allah sedang membangun suatu generasi pemimpin-pemimpin baru. Dan seperti Yosua menjadi penerus Musa, Allah ingin kita meneruskan “tongkat”-Nya kepada kita. Pelayanan dengan kerelaan berkurban bagi Tuhan ini akan mempercepat kemajuan kita… ketika seperti dalam regu estafet, kita berlari meraih tongkat itu. Sebagai garam dunia kita harus memurnikan, menyembuhkan, mengawetkan dan memberi cita rasa. Bangkitlah! Masuklah ke suatu situasi dan kerjakan tugas panggilan ini dengan sepenuh hati!

Sumber: Green, Melody. 1988. “Pass the Salt! – Seasoning an Unsavory World”. Lyndale, Texas, USA: Last Days Ministries. Kode: LD#92.

Sumber: http://www.bagimunegeri.com/garam.html

 

Kata kunci untuk artikel ini:

pdt josua tumakaka dipecat, joshua tumakaka keluar dari tiberias
About James Alfyn Muaja

Pdt James Alfein Muaja melayani sebagai Gembala Sidang di GPdI Weleri Kab. Kendal, Jawa Tengah, sebagai salah seorang Trainer / pembicara di pergerakan pria di bawah Christian Man Network (CMN), pendiri Cahaya Kasih Ministry, dan juga melayani dalam berbagai kegerakan rohani lainnya. Baca selengkapnya tentang Pdt. James di sini. Anda juga dapat menghubunginya di sini, atau berteman dengannya di Facebook dan Twitter.

Speak Your Mind

*